1.
SEJARAH MUSEUM SANGIRAN
A.
Sejarah Museum Sangiran
Sejarah museum sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh
von koenigswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya von koenigswald
dibantu oleh marsono, kepala desa krikilan pada masa itu. Balung buto adalah
fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad hidup purba yang terawetkan didalam
bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumplkan di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan penelitian Von Koenigswald, maupun para ahli lainnya. Fosil-fosil yang dianggap penting dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.
Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal bakal Museum Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun Museum kecil di Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, museum tersebut diberi nama “ Museum Plestosen “. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan ke Museum tersebut. Saat ini sisa bangunan museum telah dirombak dan dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di Ds. Ngampon, Ds. Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen. Kompleks museum ini didirikan diatas tanah seluas 16.675 m². bangunannya antara lain terdiri dari ruang pameran, ruang pertemuan/seminar, ruang kantor/administrasi, ruang perpustakaan, ruang storage, ruang laboratorium, ruang istirahat/ruang tinggal peneliti, ruang garasi dan kamar mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di museum Plestocen, Krikilan dan koleksi dimuseum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini. Museum ini selain berfungsi untuk memamerkan hasil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkoservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian kawasan Sangiran.
Tahun 1998 Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah melengkapi kompleks museum Sangiran dengan bangunan Audio Visual disisi timur museum. Dan tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior ruang kantor dan runag pertemuan menjadi ruang pameran tambahan.
Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang lebih representatif menggantikan museum yang ada secara bertahap. Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga lantai terdiri ruang baseman untuk gudang, lantai satu untuk laboratorium dan lantai dua untuku perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala dll.
B. Koleksi Museum Sangiran
Koleksi yang ada di Museum Situs Manusia Purba Sangiran saat ini, semua berasal dari sekitar Situs Sangiran. Saat ini jumlah koleksi seluruhnya + 13.808 buah. Koleksi tersebut akan selalu bertambah karena setiap musim hujan, bumi Sangiran selalu mengalami erosi yang sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah.
Koleksi yang ada di Museum Sangiran antara lain berupa fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, dan juga peralatan batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan oleh manusia purba yang pernah bermukim di Sangiran.
Koleksi-koleksi tersebut sebagian besar masih disimpan di gudang dan sebagian lagi di pajang di ruang pameran. Ruang pameran saat ini ada 3 ruang.
1. RUANG PAMERAN UTAMA
Moluska termasuk filum
invertebrata. Terbagi menjadi 7 klas dan lebih dari 100.000 spesies. Pada
vitrin ini dipamerkan contoh-contoh moluska klas Pelecipoda (kerang dengan dua
cangkang) dan klas Sastropoda (kerang bercangkang spiral), yang ditemukan pada
Formasi Kalibeng dan Formasi Pucangan.
Venericardia, Arca, Pecten,Terlina, Ostrea,Steinkern, Fragmen Tridacna,Ammonia,Vermetus.Orthaulax, Olivia,Turbo,Eupleura,Strombus, Turritella,Conus, Urosalpinx ,Buccina, Stinkern.
Binatang Air
Berisi fosil tengkorak buaya, fosil kura-kura, fosil ikan, dan fosil kepiting. Temuan fosil ikan Hiu menunjukkan bahwa Kawasan Sangiran pernah digenangi oleh air laut. Lingkungan ini kemudian berubah menjadi danau dan rawa-rawa dengan bukti temuan fosil buaya dan kura-kura, dan kepiting.
![]() |
| Gerbang Sangiran |
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumplkan di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan penelitian Von Koenigswald, maupun para ahli lainnya. Fosil-fosil yang dianggap penting dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.
Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal bakal Museum Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun Museum kecil di Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, museum tersebut diberi nama “ Museum Plestosen “. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan ke Museum tersebut. Saat ini sisa bangunan museum telah dirombak dan dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di Ds. Ngampon, Ds. Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen. Kompleks museum ini didirikan diatas tanah seluas 16.675 m². bangunannya antara lain terdiri dari ruang pameran, ruang pertemuan/seminar, ruang kantor/administrasi, ruang perpustakaan, ruang storage, ruang laboratorium, ruang istirahat/ruang tinggal peneliti, ruang garasi dan kamar mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di museum Plestocen, Krikilan dan koleksi dimuseum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini. Museum ini selain berfungsi untuk memamerkan hasil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkoservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian kawasan Sangiran.
Tahun 1998 Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah melengkapi kompleks museum Sangiran dengan bangunan Audio Visual disisi timur museum. Dan tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior ruang kantor dan runag pertemuan menjadi ruang pameran tambahan.
Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang lebih representatif menggantikan museum yang ada secara bertahap. Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga lantai terdiri ruang baseman untuk gudang, lantai satu untuk laboratorium dan lantai dua untuku perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala dll.
B. Koleksi Museum Sangiran
Koleksi yang ada di Museum Situs Manusia Purba Sangiran saat ini, semua berasal dari sekitar Situs Sangiran. Saat ini jumlah koleksi seluruhnya + 13.808 buah. Koleksi tersebut akan selalu bertambah karena setiap musim hujan, bumi Sangiran selalu mengalami erosi yang sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah.
Koleksi yang ada di Museum Sangiran antara lain berupa fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, dan juga peralatan batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan oleh manusia purba yang pernah bermukim di Sangiran.
Koleksi-koleksi tersebut sebagian besar masih disimpan di gudang dan sebagian lagi di pajang di ruang pameran. Ruang pameran saat ini ada 3 ruang.
1. RUANG PAMERAN UTAMA
![]() |
| Ruang Pameran 1 |
Venericardia, Arca, Pecten,Terlina, Ostrea,Steinkern, Fragmen Tridacna,Ammonia,Vermetus.Orthaulax, Olivia,Turbo,Eupleura,Strombus, Turritella,Conus, Urosalpinx ,Buccina, Stinkern.
Binatang Air
Berisi fosil tengkorak buaya, fosil kura-kura, fosil ikan, dan fosil kepiting. Temuan fosil ikan Hiu menunjukkan bahwa Kawasan Sangiran pernah digenangi oleh air laut. Lingkungan ini kemudian berubah menjadi danau dan rawa-rawa dengan bukti temuan fosil buaya dan kura-kura, dan kepiting.
Tengkorak Buaya (Crocodilus Sp.), Kura-Kura (Cheloma Sp.),Rahang dan Sirip Belakang Ikan, Gigi Ikan Hiu, Ruas Tulang Belakang Ikan, Sirip Ikan Bagian Depan,Kepiting.
Fosil Kayu
Selain sisa-sisa manusia dan binatang purba, di kawasan Cagar Budaya Sangiran ditemukan pula sisa-sisa batang pohon yang telah menjadi fosil. pada vitrin ini dipamerkan Fosil Batang Pohon dari Dukuh Jambi, Desa Dayu, Kec. gondangrejo, Kab. karanganyar, yang ditemukan tahun 1955 dan fosil batang Pohon dari Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen, yang ditemukan tahun 1977. Keduanya dari Formasi Pucangan.
Kua Nil (Hippopotamus Sp)
Kuda
Nil adalah binatang darat yang hidup di danau atau rawa-rawa dan dapat menyelam
di dalam air selama 5 menit dengan cara menutup lubang hidung dan matanya. Di
daerah Sangiran binatang ini ditemukan pada formasi antara Pucangan dan Kabuh.
Rahang Bawah (Mandibula),
Rahang Atas (Maxilla), Tulang
Kering (Tibia )bdan Tulang
Kaki Depan Bagian Atas (Humerus)
Copy Fosil Tengkorak Manusia
Berisi copy tengkorak manusia
purba dari berbagai situs prasejarah dunia yang secara berurutan menggambarkan
bukti-bukti evolusi manusia purba. Australopithecus Africanus (Copy),Pithecanthropus
Modjokertensis (Copy),Tengkorak
Pithecanthropus Erectus II (Copy),
Tengkorak Pithecanthropus VIII (Sangiran 17) dan Tengkorak Pithecanthropus Soloensis (Copy)
Fosil tengkorak Homo Erectus terlengkap hingga saat ini yang pernah ditemukan di Indonesia. Terdiri dari tempurung, kepala, bagian muka, dan rahang atas dengan gigi prageraham (premolar 4), taring (canine) kiri, serta geraham (molar 1-3) kanan.
Fosil ditemukan di sebelah selatan kali Pucung, Desa Dayu, Kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar. Secara geologis fosil ini diperkirakan berumur 700.000 tahun yang lalu. (Copy dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung).
Alat-Alat Batu
Manusia purba yang hidup di Sangiran menggunakan batu sebagai peralatan untuk temuan alat batu di Situs Sangiran membuktikan tentang adanya adaptasi manusia purba terhadap lingkungannya. Ditemukan “bakalan” kapak batu di daerah Sangiran, membuktikan bahwa alat-alat batu tersebut tidak didatangkan dari tempat lain. Adapun alat-alat batu yang ditemukan di Sangiran antara lain : serpih dan bilah, serut dan gurdi, bakalan kapak batu, beliung persegi, kapak perimbas,batu inti, dan bola batu.
Contoh Batuan Dari Situs sangiran
Memamerkan beberapa jenis contoh batu dan batuan yang ditemukan di kawasan Cagar Budaya Sangiran yang dapat dijadikan sebagai indikasi terhadap alam dan lingkungan Sangiran, yang secara geologis dapat membverikan informasi kondisi alam purba masa itu. Batu Rijang, Batu Meteor,
Fosil Kayu
Selain sisa-sisa manusia dan binatang purba, di kawasan Cagar Budaya Sangiran ditemukan pula sisa-sisa batang pohon yang telah menjadi fosil. pada vitrin ini dipamerkan Fosil Batang Pohon dari Dukuh Jambi, Desa Dayu, Kec. gondangrejo, Kab. karanganyar, yang ditemukan tahun 1955 dan fosil batang Pohon dari Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen, yang ditemukan tahun 1977. Keduanya dari Formasi Pucangan.
Kua Nil (Hippopotamus Sp)
![]() |
| Rangka Kuda Nil Purba |
Copy Fosil Tengkorak Manusia
![]() |
| Siklus hidup manusia |
Fosil tengkorak Homo Erectus terlengkap hingga saat ini yang pernah ditemukan di Indonesia. Terdiri dari tempurung, kepala, bagian muka, dan rahang atas dengan gigi prageraham (premolar 4), taring (canine) kiri, serta geraham (molar 1-3) kanan.
Fosil ditemukan di sebelah selatan kali Pucung, Desa Dayu, Kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar. Secara geologis fosil ini diperkirakan berumur 700.000 tahun yang lalu. (Copy dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung).
Alat-Alat Batu
Manusia purba yang hidup di Sangiran menggunakan batu sebagai peralatan untuk temuan alat batu di Situs Sangiran membuktikan tentang adanya adaptasi manusia purba terhadap lingkungannya. Ditemukan “bakalan” kapak batu di daerah Sangiran, membuktikan bahwa alat-alat batu tersebut tidak didatangkan dari tempat lain. Adapun alat-alat batu yang ditemukan di Sangiran antara lain : serpih dan bilah, serut dan gurdi, bakalan kapak batu, beliung persegi, kapak perimbas,batu inti, dan bola batu.
Contoh Batuan Dari Situs sangiran
Memamerkan beberapa jenis contoh batu dan batuan yang ditemukan di kawasan Cagar Budaya Sangiran yang dapat dijadikan sebagai indikasi terhadap alam dan lingkungan Sangiran, yang secara geologis dapat membverikan informasi kondisi alam purba masa itu. Batu Rijang, Batu Meteor,
Batu Kalsedon,Batuan
Konkresi, Batu Cetakan
(Steinkernf),Batu Koral, Batu Diatomeh,Batu Gamping Moluska,Batu Gamping Foraminiferaj.
Gajah Purba
Gajah purba yang
pernah hidup di daerah Cagar Budaya Sangiran antara lain jenis Mastodon,
Stegodon dan Elephas. Spesies Stegodon Trigonocephalus merupakan jenis gajah
purba yang paling banyak ditemuka di Situs Sangiran. Fosil binatang ini banyak
ditemukan pada Formasi Pucangan Atas dan Kabuh dan hidup antara
1.200.000-500.000 tahun yang lalu.
Fosil Bovidae
Bovidae adalah kelompok binatang bertanduk seperti Kerbau, Banteng dan lain-lain. Fosil binatang ini banyak ditemukan pada Formasi Pucangan Atas dan Formasi Kabuh7. Rahang Atas (Maxilla) 25 Februari 1975 Formasi Kabuh Bawah, Sangiran
Fosil Rusa (Cervus Sp)
Berisi fosil rusa dan domba yang pernah hidup pada kala Pleistosin Tengah dan diendapkan pada Formasi Kabuhg
![]() |
| Rangka Gajah dan Rusa Purba |
Fosil Bovidae
Bovidae adalah kelompok binatang bertanduk seperti Kerbau, Banteng dan lain-lain. Fosil binatang ini banyak ditemukan pada Formasi Pucangan Atas dan Formasi Kabuh7. Rahang Atas (Maxilla) 25 Februari 1975 Formasi Kabuh Bawah, Sangiran
Fosil Rusa (Cervus Sp)
Berisi fosil rusa dan domba yang pernah hidup pada kala Pleistosin Tengah dan diendapkan pada Formasi Kabuhg
Fosil Babi, Harimau, dan Badak
No. Nama Koleksi Penemu & Tgl Temuan Asal Temuan. Rahang Atas Babi Sus Brachynathus , Rahang Bawah (Mandibula) Babi Sus Terhaari , Tengkorak Harimau (Cranium Fellis Paleojavanica, Tulang Paha Harimau (Femur) ,Taring Harimau (Canine), Tengkorak Badak (Rhinoceros Sondaicus) , Rahang Bawah Badak , Tulang Belikat Badak Danisu, Rahang Atas Elephas Namadicus.
Rahang Gajah
Berisi rahang atas Stegodon trigonocephalus dan rahang bawah Elephantoides. keduanya adalah jenis gajah purba yang pernah hidup di Sangiran.
2. RUANG PAMERAN TAMBAHAN I
![]() |
| Ruang Pameran 2 |
Bola Batu ,Rahang Atas Babi Rahang bawah Babi Taring Babi , Rahang Bawah Badak Gudel,Tengkorak Banteng(Bibos Palaeosondaicus), Tl kaki depan (Radius) Gajah Tl. hasta (Ulna) Gajah ,Rahang Atas Gajah , Tl Pinggul (Pelvis) gajah ,Rahang bawah gajah, Tl jari Gajah ,Rahang Atas (maxilla) Rusa Tanduk Rusa ,Tengkorak Banteng .
3. RUANG PAMERAN TAMBAHAN II
Foto Penunjang






OK, sekali lagi perhatikan tentang penggunaan HURUF KAPITAL. Contoh ---> oleh von koenigswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya von koenigswald dibantu oleh marsono, kepala desa krikilan pada masa itu. Sebaliknya, yang mestinya menggunakan huruf kecil justru besar --> Bola Batu ,Rahang Atas Babi Rahang bawah Babi Taring Babi , Rahang Bawah
BalasHapus